PA 080214 – “What does God think of me now?” (part 1)

February 18, 2008 at 2:35 pm Leave a comment

Kamis, 14 February 2008

Setelah PA Pemuda tahun ini dibuka dengan topik, “Resolusi; realita atau mimpi” maka PA selanjutnya mengambil topik “What does God think of me now?” yang diangkat dari buku “The purpose driven life” (Rick Warren). Mengawali PA, pembicara yaitu pdt. Cordelia Gunawan, mengungkapkan pertanyaan tentang hakekat hidup.

“Saya hidup untuk…”

Dimensi hidup yang menyangkut tanggung jawab dan peranan manusia dilihat dari tiga perspektif:

  1. Berdasarkan kejadian awal atau sejarah penciptaan (Lih. Kejadian 1:26-27): Manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah (ImagoDei). Ketika Allah menghembuskan nafas kehidupan, maka manusia itu hidup. Manusia hidup, maka ia bernafas. Dan selama ia hidup, maka ia haruslah menjadi citra Allah atau ImagoDei tadi.
  2. Berdasarkan pemahaman iman Kristen bahwa pada dasarnya manusia telah mati oleh dosa tetapi oleh Yesus Kristus ia diselamatkan dan menjadi manusia baru (Lih. Efesus 4:17-24). Oleh karenanya, kematian bukan lagi akhir dari segala-galanya bagi orang Kristen, melainkan hanya sebuah pintu menuju kehidupan kekal.
  3. Merujuk pada butir 2, menjadi manusia baru berarti hidup dalam persekutuan dengan Allah sebagai anak-anak terang.

Dengan demikian, kehidupan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab kita sebagai: 1. Gambar dan rupa Allah, 2. Manusia baru, 3. Persekutuan anak-anak terang.

Apakah tanggung jawab ini memiliki dampak dalam kehidupan sehari-hari? Seharusnya ada, tetapi seringkali kita lupa. Manakah yang lebih penting, ambisi atau proses pencapaiannya? Harusnya proses tetapi dalam kenyataannya banyak juga orang meninggalkan Tuhan demi ambisi. Orang yang hidup dalam Tuhan, harusnya mempunyai semacam “ALERT” untuk tetap erat dengan Tuhan.

Seberapa jauh kita menyelaraskan tujuan hidup kita, termasuk tujuan hidup yang spesifik dengan tanggung jawab kekristenan kita? Berhati-hatilah dengan tujuan-tujuan kita karena mungkin saja kita melakukan pilihan-pilihan yang salah. Memiliki tujuan sah-sah saja, tetapi jangan lupa tujuan dan tanggung jawab kehidupan kita yang mendasar.

Apa kesulitannya?

  • Hidup tidak selalu hitam putih. Kita tidak mengetahui secara detail apa yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan, walaupun demikian paling tidak kita dapat menemukan kehendak-kehendakNya yang umum yang dapat kita temui melalui Firman Tuhan dan hubungan pribadi dengan Tuhan.
  • Menyelaraskan tujuan dengan Firman Tuhan. Berhenti perlakukan Tuhan seperti mesin ATM, hanya datang pada saat membutuhkan.
  • Ketersisihan dan perasaan takut ditolak. Kita harus siap untuk ditolak tapi kecenderungan kita lebih takut manusia daripada Tuhan. Walaupun demikian, manakala kita berupaya dekat dengan Tuhan akan ada kemungkinan kita tertolak atau tersisihkan.

“What does God think of me now?” adalah suatu pertanyaan yang perlu terus bergaung dalam setiap aktivitas kita. Sebagai citra Allah (ImagoDei) prinsip ‘tak kenal maka tak sayang’ juga berlaku. Kenalilah Tuhanmu dan cintailah Dia. Mengalami ketersisihan dan penolakan hanyalah bagian dari harga yang harus dibayar.

Sessi tanya jawab:

Pertanyaan

  1. Untuk point 3, bila kita belum mengalami penolakan/ketersisihan, apakah hidup belum lengkap? (Aldrian)
  2. Jika tidak mengikuti arus maka saya akan tersisih, jika saya tersisih maka saya tidak mempunyai kesempatan melakukan perubahan yang menuntut kompromi sebagai syaratnya. Harus bagaimana? (Wiwin)
  3. Bagaimana skala prioritas antara sabat dan urusan yang tidak dapat ditunda? (Yudi)
  4. Contoh kasus: orang yang tergesa-gesa ke gereja atau tidur di gereja. Bagaimana konsep-konsep yang tidak memperhatikan proses? terutama bahwa yang terpenting hubungan spiritual pribadi dan tidak harus komunal. (Yaya)
  5. Bolehkah kita menguji Allah? Contoh kasus: perpuluhan diberikan tetapi kehidupan justru semakin berat sehingga mempertanyakan janji Allah bahwa tingkap-tingkap berkat akan dibukakan bila kita memberi. (Yudi)
  6. Apakah boleh perpuluhan dipakai untuk menolong orang dan tidak diberikan via gereja? (Prita)
  7. Hubungan dengan Tuhan harusnya membawa seseorang menjadilebih baik. Tapi Tuhan yang mana? Agama lain juga mengajarkan demikian. Dalam kehidupan kekristenan banyak hal yang tidak implikatif, apa bedanya dengan iman lain? (Wiwin)

Pembahasan

  1. Tidak bisa langsung dikatakan ya bila hidup tidak lengkap tanpa ketertolakan tetapi juga tidak bisa dikatakan ya bila ada hidup yang sama sekali tanpa penolakan atau ketersisihan. Walaupun dalam skala yang berbeda-beda, setiap kita pasti mengalaminya. Tapi seandainya tidak, hal tersebut juga bisa menjadi ‘alert’, jangan-jangan selama ini kita tidak mau meninggalkan zona nyaman kita. Refleksi: apa sih zona nyaman kita saat ini?
  2. Ada hal-hal yang menyangkut keputusan etis. Kita harus selalu bergumul dengan baik vs buruk, tepat vs tidak tepat, benar vs salah. Contoh kasus: Raja Salomo dalam kasus dua ibu yang memperebutkan bayi. Banyak hal memang tidak 100% sempurna (catatan: tapi jangan juga dijadikan alasan) namun kita harus berusaha mempertanggungjawabkan iman kita. Terkadang juga dikarenakan kita takut mencoba hidup benar dan berpikir tidak ada jalan lain selain kompromi.
  3. Menolong sesama juga termasuk ibadah. Walaupun demikian sabat tetap harus diperhatikan berdasarkan maknanya.
  4. Tradisi kekristenan mencatat bahwa orang menempuh perjalanan berkilo-kilo untuk ibadah. Hubungan pribadi memang perlu, tetapi hubungan komunal juga perlu. Tanda salib menunjukan perlunya hubungan vertikal dengan Tuhan dan horisontal dengan sesama.
  5. Jika motivasi memberi adalah untuk mendapatkan lebih –> salah! Memberi haruslah sebagai ungkapan syukur sehingga seberat apapun keadaan yang menekan kita tidak akan merasa terbeban dan selalu ada yang bisa disisihkan (bukan disisakan).
  6. Perpuluhan sebaiknya diserahkan ke gereja (konvensional), jika ada yang benar-benar membutuhkan bisa disalurkan tetapi jangan dibiasakan. Prioritaskan untuk tetap menyalurkan via gereja. Belum ada aturan baku dan masih menjadi bahan diskusi tetapi yang harus diingat segala sesuatu harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.
  7. Kekhasan kristiani sangat terkait dengan keselamatan dan Yesus Kristus. Untuk hal-hal yang bersifat praksis agak sulit dijelaskan karena juga menyangkut bagaimana kita melihat diri kita dan orang lain.

Refleksi:

Apakah hidup saya menjadi citra Allah, manusia baru yang mengalami persekutuan dengan Allah, dan menjadi anak-anak terang?

Entry filed under: Ringkasan Acara. Tags: , .

PA 2 Agustus 2007 – “Kawin Campur dan Campur Tangan Tuhan” PA 080221 – “What does God think of me now?” (Part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Posts


%d bloggers like this: