PA 080221 – “What does God think of me now?” (Part 2)

Diskusi

Bagaimana Anda memposisikan Tuhan dalam perjalanan hidup Anda? Jika Anda disuruh memilih, mana yang lebih tepat menggambarkan peranan Tuhan: Tuhan sebagai arsitek rancang bangun hidup Anda atau Tuhan sebagai rekan yang berjalan bersama Anda, atau apa?

Sebagai arsitek rancang bangun, Tuhan yang mengatur segala sesuatu (grand-designer), sedangkan sebagai rekan dia menjadi teman seperjalanan Anda. Menurut kelompok Mario ‘cs: Peran Tuhan adalah keduanya, baik sebagai arsitek rancang bangun maupun rekan seperjalanan karena dari awal sampai akhir Tuhan tidak boleh dipisahkan; Menurut kelompok Petrus ‘cs: Tuhan adalah arsitek sekaligus rekan; Menurut kelompok Tanias ‘cs: Sudah pasti dua-duanya, Tuhan yang merancang dan sekaligus rekan, yang perlu diingat juga adalah bahwa sebagai manusia kita punya kehendak bebas/kemerdekaan sekaligus juga boleh bertanya pada Tuhan apakah ini atau itu boleh atau tidak agar sebagai anak Tuhan kita tetap berjalan bersama Tuhan.

Pembicara yaitu pdt. Cordelia Gunawan tidak memberikan jawaban langsung atas pertanyaan diskusi. Beliau memperkenalkan apa yang disebut sebagai “Pandangan tentang Tuhan” sebagai berikut:

  1. Deisme – Tuhan diposisikan sebagai tukang jam. Saat jam tersebut mulai berputar maka sang pencipta tidak dibutuhkan lagi. Pandangan ini mengemukakan bahwa setelah manusia diciptakan maka sepenuhnya tanggung jawab atas hidup ada pada manusia tersebut dan sama sekali lepas dari sang penciptanya. Contoh deisme adalah orang-orang yang mengandalkan kemampuannya sendiri. Contoh ekstrim adalah penganut paham atheis. Pdt. Cordelia juga mengingatkan mengenai “atheisme terselubung” yaitu bahwa secara legal kita beragama namun pada dasarnya kita tidak mempercayai bahkan cenderung menolak Tuhan.
  2. Tuhan yang mengatur detail kehidupan kita. Penganut paham ini percaya pada nasib atau takdir. Pandangan ini meniadakan kehendak manusia sehingga manusia menjadi pasif. Orang Kristen tidak percaya nasib/takdir. Pandangan ini kadang membuat orang tidak mengoreksi diri dan cenderung menganggap semua datang dari Tuhan.
  3. Tuhan sebagai Providentia Dei atau Pemelihara. Ada ruang bagi manusia untuk mengatur kehidupannya tetapi Tuhan tetap memegang peranan dan bertindak sebagai pemelihara. Berkenaan dengan ruang untuk mengatur kehidupannya sendiri ini, berhati-hatilah karena seperti kata rasul Paulus, daging lemah.

Diskusi

Situasi apa yang dapat membuat Anda ragu bahwa Tuhan mempunyai tujuan yang baik dalam kehidupan Anda?

Menurut Helga ‘cs: Waktu orang yang jadi panutan tidak bersikap sesuai dengan yang diinginkan, waktu kita ingin berubah tetapi justru mengalami kesulitan sehingga bertanya pada Tuhan kenapa mau berbuat baik saja koq susah, waktu diperhadapkan dengan pilihan-pilihan; Menurut Risa ‘cs: Waktu dapat musibah pasti setiap orang bertanya ‘apanya yang baik?’ atau saat kita menerima sesuatu yang tidak sesuai keinginan; Menurut Sisil ‘cs: Waktu diputusin pacar seolah dunia sudah berakhir padahal Tuhan sudah siapin yang lainnya :) cuma kita aja yang belum sadar, waktu karir mengantar kita untuk mengurusi bagian finance padahal kita maunya accounting, kita merasa ada yang salah padahal disana ada berkat berupa keuangan yang lebih secure, intinya waktu kita melihat kehidupan cuma dari sisi kita saja dan mengabaikan bahwa Tuhan melihat gambaran utuh sehingga saat apa yang kita lihat tidak bagus maka kita berpikir bahwa tidak ada hal yang baik disana.

Pdt. Cordelia menjelaskan bahwa sampai kapanpun kita tidak bisa 100% mengerti jalan pikiran Tuhan sehingga wajar apabila kita selalu bertanya apa kehendak Tuhan pada diri kita. Bila kita masih bertanya adalah indikasi yang baik bahwa iman kita hidup, tetapi bahayanya adalah bila kita tidak lagi bertanya karena kita merasa lebih tahu ataupun tidak mau tahu.

Pdt. Cordelia juga memberikan ilustrasi mengenai seorang ibu yang mengerjakan sulaman cruisstick, anaknya yang bermain di bawah hanya melihat gumpalan benang-benang kusut, tetapi saat sulaman itu selesai dan ibu itu memangku anaknya dan memperlihatkan hasil sulaman dari atas barulah sang anak melihat keindahan sulaman ibunya. Demikianlah kita. Kadang kita bertanya mengapa hidup menjadi seumpama benang kusut yang tidak ada ujungnya hingga saatnya Tuhan memangku kita dan menunjukkan hasil akhirnya. Jadi mari sadari keterbatasan kita dan karena kita terbatas itulah maka kita akan selalu membutuhkan Tuhan.

Hal-hal yang dapat membuat kita meragukan rencana indah Tuhan:

  • keterbatasan fisik
  • masalah-masalah yang harus dihadapi
  • tantangan-tantangan

How to overcome?

  • Belajar menerima dan mencintai diri sendiri. Lih Yoh 9:1-3. Contoh kasus: Nick dan Charlotte Elliot. Membaca Firman Tuhan setiap hari dapat menyapa setiap orang dengan cara yang berbeda pribadi lepas pribadi. Untuk keperluan konseling dengan orang-orang yang terbatas secara fisik, harus berhati-hati menggunakan Firman Tuhan apalagi jika kita tidak berada dalam posisi mereka. Berhati-hati pula pada kondisi stagnan, yaitu kita tidak membenci diri kita tetapi juga tidak menggali potensi kita. Keadaan ini akan sangat rentan bila terjadi sesuatu pada keadaan fisik. Banyak potensi yang tidak dibatasi oleh kelemahan fisik. Jadi, kenali diri dan gali potensimu!
  • Belajar terus meyakini bahwa kita dikasihi oleh Tuhan. Contoh kasus: Tukinem, Harold Kushner, Stanford. Lihat Roma 8:28.

Contoh-contoh dan penjelasan tidak semua di rangkum dalam posting blog. Penasaran? makanya rajin datang PA Pemuda dong hehe :P

Beberapa kesimpulan/pernyataan dari peserta PA:

Wiwik: Harus belajar untuk tidak sombong karena iman manusia bisa saja berubah

Petrus: Sebelum sakit rajin saat teduh, sekarang mulai saat teduh lagi dan semoga tidak kambuh lagi penyakitnya. Kesaksian bahwa Tuhan sanggup melepaskan dari kuasa gelap dan memberi sukacita.

Tania: Tuhan tempatkan kita dimanapun dalam keluarga seperti apapun dan lingkungan yang seperti apapun adalah untuk menjadikan kita berkat bagi banyak orang.

Sessi tanya jawab:

  1. Apakah dapat disimpulkan bahwa Tuhan punya rencana dan untuk mewujudkannya perlu bekerja sama dengan manusia?
  2. Bagaimana dengan ungkapan, “orang itu sudah jahat dari sananya!”
  3. Pada kasus Stanford apakah berarti rancangan Tuhan telah gagal pada dirinya?

Pembahasan:

  1. Pemeliharaan Tuhan dapat dikatakan bahwa hidup kita berkolaborasi dengan Tuhan. Tuhan tahu karena Dia mengenal kita tetapi kita punya kehendak bebas disana. Bedakan antara ‘Tuhan tahu’ dan ‘Tuhan tentukan’. Providencia berarti pemeliharaan Tuhan tetap sepanjang kehidupan kita.
  2. Tidak ada orang yang ‘jahat dari sananya’, yang ada adalah manusia yang dalam perjalananya meninggalkan Tuhan. Ingat, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (ImagoDei).
  3. Akhir hidup Stanford yang tragis membuat ia dilihat gagal dari sudut pandang manusia walaupun demikian kita tidak bisa mengklaim bahwa rancangan Tuhan gagal pada Standford. Yang jelas dari kehidupan Standford ada hal yang bisa kita pelajari. Toh Alkitab mencatat bahwa Tuhan memakai orang-orang yang tidak ’sempurna’.

Refleksi:

“Apakah saya masih terus bertanya dan melibatkan Tuhan dalam sepanjang perjalanan hidup saya?”

____

notes:

  • PA kamis ini lebih bersifat diskusi 2 arah.
  • terima kasih kepada Ramon dan Yaya yang udah mengisi ruang kesaksian

Add comment February 26, 2008

PA 080214 – “What does God think of me now?” (part 1)

Kamis, 14 February 2008

Setelah PA Pemuda tahun ini dibuka dengan topik, “Resolusi; realita atau mimpi” maka PA selanjutnya mengambil topik “What does God think of me now?” yang diangkat dari buku “The purpose driven life” (Rick Warren). Mengawali PA, pembicara yaitu pdt. Cordelia Gunawan, mengungkapkan pertanyaan tentang hakekat hidup.

“Saya hidup untuk…”

Dimensi hidup yang menyangkut tanggung jawab dan peranan manusia dilihat dari tiga perspektif:

  1. Berdasarkan kejadian awal atau sejarah penciptaan (Lih. Kejadian 1:26-27): Manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah (ImagoDei). Ketika Allah menghembuskan nafas kehidupan, maka manusia itu hidup. Manusia hidup, maka ia bernafas. Dan selama ia hidup, maka ia haruslah menjadi citra Allah atau ImagoDei tadi.
  2. Berdasarkan pemahaman iman Kristen bahwa pada dasarnya manusia telah mati oleh dosa tetapi oleh Yesus Kristus ia diselamatkan dan menjadi manusia baru (Lih. Efesus 4:17-24). Oleh karenanya, kematian bukan lagi akhir dari segala-galanya bagi orang Kristen, melainkan hanya sebuah pintu menuju kehidupan kekal.
  3. Merujuk pada butir 2, menjadi manusia baru berarti hidup dalam persekutuan dengan Allah sebagai anak-anak terang.

Dengan demikian, kehidupan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab kita sebagai: 1. Gambar dan rupa Allah, 2. Manusia baru, 3. Persekutuan anak-anak terang.

Apakah tanggung jawab ini memiliki dampak dalam kehidupan sehari-hari? Seharusnya ada, tetapi seringkali kita lupa. Manakah yang lebih penting, ambisi atau proses pencapaiannya? Harusnya proses tetapi dalam kenyataannya banyak juga orang meninggalkan Tuhan demi ambisi. Orang yang hidup dalam Tuhan, harusnya mempunyai semacam “ALERT” untuk tetap erat dengan Tuhan.

Seberapa jauh kita menyelaraskan tujuan hidup kita, termasuk tujuan hidup yang spesifik dengan tanggung jawab kekristenan kita? Berhati-hatilah dengan tujuan-tujuan kita karena mungkin saja kita melakukan pilihan-pilihan yang salah. Memiliki tujuan sah-sah saja, tetapi jangan lupa tujuan dan tanggung jawab kehidupan kita yang mendasar.

Apa kesulitannya?

  • Hidup tidak selalu hitam putih. Kita tidak mengetahui secara detail apa yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan, walaupun demikian paling tidak kita dapat menemukan kehendak-kehendakNya yang umum yang dapat kita temui melalui Firman Tuhan dan hubungan pribadi dengan Tuhan.
  • Menyelaraskan tujuan dengan Firman Tuhan. Berhenti perlakukan Tuhan seperti mesin ATM, hanya datang pada saat membutuhkan.
  • Ketersisihan dan perasaan takut ditolak. Kita harus siap untuk ditolak tapi kecenderungan kita lebih takut manusia daripada Tuhan. Walaupun demikian, manakala kita berupaya dekat dengan Tuhan akan ada kemungkinan kita tertolak atau tersisihkan.

“What does God think of me now?” adalah suatu pertanyaan yang perlu terus bergaung dalam setiap aktivitas kita. Sebagai citra Allah (ImagoDei) prinsip ‘tak kenal maka tak sayang’ juga berlaku. Kenalilah Tuhanmu dan cintailah Dia. Mengalami ketersisihan dan penolakan hanyalah bagian dari harga yang harus dibayar.

Sessi tanya jawab:

Pertanyaan

  1. Untuk point 3, bila kita belum mengalami penolakan/ketersisihan, apakah hidup belum lengkap? (Aldrian)
  2. Jika tidak mengikuti arus maka saya akan tersisih, jika saya tersisih maka saya tidak mempunyai kesempatan melakukan perubahan yang menuntut kompromi sebagai syaratnya. Harus bagaimana? (Wiwin)
  3. Bagaimana skala prioritas antara sabat dan urusan yang tidak dapat ditunda? (Yudi)
  4. Contoh kasus: orang yang tergesa-gesa ke gereja atau tidur di gereja. Bagaimana konsep-konsep yang tidak memperhatikan proses? terutama bahwa yang terpenting hubungan spiritual pribadi dan tidak harus komunal. (Yaya)
  5. Bolehkah kita menguji Allah? Contoh kasus: perpuluhan diberikan tetapi kehidupan justru semakin berat sehingga mempertanyakan janji Allah bahwa tingkap-tingkap berkat akan dibukakan bila kita memberi. (Yudi)
  6. Apakah boleh perpuluhan dipakai untuk menolong orang dan tidak diberikan via gereja? (Prita)
  7. Hubungan dengan Tuhan harusnya membawa seseorang menjadilebih baik. Tapi Tuhan yang mana? Agama lain juga mengajarkan demikian. Dalam kehidupan kekristenan banyak hal yang tidak implikatif, apa bedanya dengan iman lain? (Wiwin)

Pembahasan

  1. Tidak bisa langsung dikatakan ya bila hidup tidak lengkap tanpa ketertolakan tetapi juga tidak bisa dikatakan ya bila ada hidup yang sama sekali tanpa penolakan atau ketersisihan. Walaupun dalam skala yang berbeda-beda, setiap kita pasti mengalaminya. Tapi seandainya tidak, hal tersebut juga bisa menjadi ‘alert’, jangan-jangan selama ini kita tidak mau meninggalkan zona nyaman kita. Refleksi: apa sih zona nyaman kita saat ini?
  2. Ada hal-hal yang menyangkut keputusan etis. Kita harus selalu bergumul dengan baik vs buruk, tepat vs tidak tepat, benar vs salah. Contoh kasus: Raja Salomo dalam kasus dua ibu yang memperebutkan bayi. Banyak hal memang tidak 100% sempurna (catatan: tapi jangan juga dijadikan alasan) namun kita harus berusaha mempertanggungjawabkan iman kita. Terkadang juga dikarenakan kita takut mencoba hidup benar dan berpikir tidak ada jalan lain selain kompromi.
  3. Menolong sesama juga termasuk ibadah. Walaupun demikian sabat tetap harus diperhatikan berdasarkan maknanya.
  4. Tradisi kekristenan mencatat bahwa orang menempuh perjalanan berkilo-kilo untuk ibadah. Hubungan pribadi memang perlu, tetapi hubungan komunal juga perlu. Tanda salib menunjukan perlunya hubungan vertikal dengan Tuhan dan horisontal dengan sesama.
  5. Jika motivasi memberi adalah untuk mendapatkan lebih –> salah! Memberi haruslah sebagai ungkapan syukur sehingga seberat apapun keadaan yang menekan kita tidak akan merasa terbeban dan selalu ada yang bisa disisihkan (bukan disisakan).
  6. Perpuluhan sebaiknya diserahkan ke gereja (konvensional), jika ada yang benar-benar membutuhkan bisa disalurkan tetapi jangan dibiasakan. Prioritaskan untuk tetap menyalurkan via gereja. Belum ada aturan baku dan masih menjadi bahan diskusi tetapi yang harus diingat segala sesuatu harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.
  7. Kekhasan kristiani sangat terkait dengan keselamatan dan Yesus Kristus. Untuk hal-hal yang bersifat praksis agak sulit dijelaskan karena juga menyangkut bagaimana kita melihat diri kita dan orang lain.

Refleksi:

Apakah hidup saya menjadi citra Allah, manusia baru yang mengalami persekutuan dengan Allah, dan menjadi anak-anak terang?

Add comment February 18, 2008

Next Posts Previous Posts


Recent Posts

Recent Comments

Christo on PA Pemuda’s Corner
Henny on PA Pemuda’s Schedul…
Henny on PA Pemuda’s Corner
RMS on PA Pemuda’s Schedul…
me on PA Pemuda’s Schedul…

Blogroll

Archives