PA 080306, “What Drives you?” (Part 1)

“What drives you? atau “Apa yang menggerakkan kehidupan Anda?”, dibawakan dalam dua sessi pertemuan oleh kak Yohanes Budhi, M.Th.
Part 1: Krisis, Kehausan dan Anugerah!

  1. Pengenalan
  2. Kehidupan yang digerakkan oleh dorongan: (a) krisis, (b) kebutuhan
  3. Kehidupan yang digerakkan oleh Anugerah

Pengenalan siklus kehidupan digambarkan oleh kak Budhi dengan menyampaikan syair William Shakespeare yang berjudul “As You Like It“. Dunia ini panggung sandiwara dan baik pria dan wanita hanyalah sekedar para pemain yang bergiliran ke luar dan bergiliran masuk;

Dan satu pria pada masanya memainkan banyak peran, yang terdiri dari 7 babak:

  1. Sebagai bayi; menangis lemah dan muntah di pelukan inangnya
  2. Sebagai anak sekolah; merengek dengan tas dan wajah mudanya yang cerah, merayap lamban bagaikan siput enggan ke sekolah.
  3. Sebagai kekasih; mendesah seperti api pembakaran, dengan lagu sendu di bibir yang membuat penasaran.
  4. Sebagai prajurit; sarat dengan sumpah aneh, berkumis bak macan kumbang, siaga membela kehormatan, mendadak dan cepat dalam tempur, mencari nama besar bagaikan pahlawan, bahkan di mulut meriam.
  5. Sebagai orang arif; berperut buncit, dibungkus busana apik, sinar mata tajam, janggut dipangkas rapi, sarat nasihat bijak dan pandangan modern.
  6. Sebagai lelaki tua; tua dan kurus, bersandal, berkacamata di hidung, dan berkantung uang saku di sisi. Celana dari masa mudanya terawat baik tapi terlalu longgar untuk pahanya yang menyusut. Suara mantap laki-lakinya berubah menjadi lengkingan kekanak-kanakan, terengah dan bersuit setiap kali ia bicara.
  7. Sebagai anak-anak lagi; kekanak-kanakan lagi dan mulai pikun, tanpa gigi, tanpa penglihatan, tanpa rasa, dan akhirnya… tanpa segala-galanya.

Apakah ada yang salah dalam hidup ini?

Pikirkanlah:

Apakah yang menjadi daya penggerak di dalam kehidupan Anda?” dan, “Apakah hidup Anda bergulir begitu saja, tergilas dalam aktivitas tanpa arti?

Kehidupan yang digerakkan oleh KRISIS

  • Lingkungan: Masyarakat yang tidak aman, saling mencurigai, dan kompetitif.
  • Kecemasan-kecemasan yang kerap menghantui, seperti: perasaan tidak berdaya, perasaan ‘sendiri’, perasaan bahwa hidup itu sedemikian kerasnya
  • Dampak dan simptom: hidup menjadi digerakkan oleh rasa bersalah, oleh kebencian dan kemarahan, dan oleh rasa takut.

Kehidupan yang digerakkan oleh KEBUTUHAN

  • Digambarkan dalam piramida Maslow, dengan urutan-urutan dari bawah ke atas sebagai berikut:
    • Physiological Needs (kebutuhan fisik)
    • Safety Needs (kebutuhan akan rasa aman)
    • Belongingness & Love Needs (kebutuhan untuk memiliki dan kebutuhan akan cinta)
    • Esteem Needs (kebutuhan untuk dihargai)
    • Need to Know & Understand (kebutuhan untuk mengetahui dan memahami)
    • Aesthetic Needs (kebutuhan estetik)
    • Self Actualization (kebutuhan akan aktualisasi diri)
    • Transcendence (kebutuhan yang transenden)
  • Digambarkan oleh Larry Crabb dalam lingkaran kebutuhan yang menggambarkan kebutuhan orang yang haus.
    • Lingkaran terluar: Kerinduan yang sederhana
    • Lingkaran tengah: Kerinduan yang kritis
    • Lingkaran dalam: Kerinduan yang sangat penting, pada tahap ini kerinduan tersebut berhubungan dengan relasi dengan Tuhan.
  • Dampak dan simptom kehidupan yang digerakkan oleh kebutuhan tergambar pada kehidupan yang digerakkan oleh materialisme dan kehidupan yang digerakkan oleh adanya pengakuan dari orang lain.
  • Sejak kejatuhan manusia dalam dosa, daya penggerak di dalam kehidupan kita sering kali bersifat:
    • berpusat pada diri sendiri
    • manipulatif

Kehidupan yang digerakkan oleh ANUGERAH

Lihat apa yang dikatakan Alkitab:

  • Efesus 2:8-10 –> Manusia diselamatkan semata-mata karena Anugerah, dan kehidupan yang mengalami anugerah penebusan memiliki tujuan yang dipersiapkan Allah.
  • I Korintus 15:9-10 –> Manusia diselamatkan bukan oleh perbuatan-perbuatannya tetapu hanya oleh kasih karunia Allah.

Sehingga dapat dikatakan bahwa seharusnyalah kehidupan yang telah ditebus digerakkan oleh kasih karunia menuju suatu tujuan mulia. (selengkapnya dibahas pada “What drives you?” (part 2)).

Sessi Tanya Jawab:

Pertanyaan:

  1. Jika kita mengetahui bahwa krisis dan kebutuhan/kehausan bukan penggerak yang benar, apakah cukup bagi kita untuk sekedar mengubah penggerak atau juga harus mengenali krisis dan kebutuhan? (Yaya)
  2. Apakah boleh saat ini hidup nge-flow aja? (Yaya)
  3. Waktu kecil kita membuat cita-cita dan rencana macam-macam. Apakah rencana kita waktu kecil akan dipakai Tuhan saat kita dewasa? atau, kita tidak boleh buat rencana bila Anugerah yang menggerakkan? (Lydia)

Pembahasan:

  1. Kita memang perlu mengenal apa yang menggerakkan kehidupan kita, dan hal ini tidak melulu salah karena merupakan sesuatu yang alamiah. Tetapi yang bersifat ‘alamiah’ inipun tidak sesempurna pada awal penciptaan sehingga kehidupan saat ini tidak sesederhana siklus alam semata. Adanya karya penebusan Kristus mengingatkan kita bahwa kehidupan memiliki tujuan.
  2. Nge-flow atau melakukan rutinitas juga tidak melulu salah, yang perlu diingat adalah agar tidak terjebak dalam kebutuhan-kebutuhan yang rendah dan berhati-hati agar tidak di-drive pada hal-hal yang manipulatif. Filsafat yang ditawarkan era post-modernisme kadang berupa rasionalitas yang terlalu banyak dan pada akhirnya membingungkan. Kita sering tidak lagi mencari ‘mana yang benar’ dan malah berpikir ‘emang ada yang benar?’ atau ‘let it flow‘. Nge-flow boleh-boleh saja tetapi sadari bahwa kita diciptakan tidak untuk sekedar nge-flow aja tapi ada pekerjaan baik yang dikerjakan Allah melalui kita.
  3. Sadari motivasi kita salam merencanakan! Apa yang men-drive rencana tersebut? Tetaplah membuat rencana dengan iman dan kesadaran akan Anugerah walaupun Anda belum jelas kemana Tuhan akan arahkan hidup Anda.

Refleksi:

  • Apakah yang menjadi daya penggerak di dalam kehidupan Anda?
  • Apakah hidup Anda bergulir begitu saja, tergilas dalam aktivitas tanpa arti?

Notes:

  • Thanx buat Thera dan Daniel yang sudah mengisi ruang kesaksian
  • Sekedar info, PA kemaren pembicaranya cowok, MC-nya cowok, pemusiknya cowok, yang dateng juga banyakan cowok… hehehe… hidup cowok! Dateng lagi ya kamis ini ;)

March 12, 2008 at 10:51 am Leave a comment

PA 080228 – “Do you have the right kind of faith?”

PA ini menggunakan referensi buklet RBC dengan judul yang sama dan dibawakan oleh bang Ichwan Panggabean.

Berdasarkan buklet tersebut, ada 3 asumsi yang dikemukakan, yaitu:

  1. Setiap orang pasti memiliki iman (band. Ams. 4:23)
  2. Iman ada objecknya, bisa benda, ide, orang, dsb.
  3. Objek iman berperan menentukan apakah iman kita benar atau salah.

Kata ‘iman’ menurut beberapa sumber yang ditulis dalam buklet ini, antara lain:

  • keyakinan terhadap nilai-nilai, ide, sesuatu atau seseorang
  • berhubungan dengan akal/reason tetapi tidak bisa dijelaskan oleh akal atau bukti
  • sistem dari keyakinan
  • satu set prinsip-prinsip tentang keyakinan
  • dsb

Objek iman menentukan apakah iman kita benar atau salah. Apa yang salah?

>> Humanisme, selfisme, escapisme

>> Okultisme, mistisisme

>> Sacramentalisme, legalisme

>> Universalisme

Hal-hal ini juga saat ini berhadapan langsung dengan modernisme yang mengutamakan rasional, dan postmodernisme yang transenden. Saat ini kita sedang berada dalam jaman yang bergeser. Iman adalah anugerah Tuhan, tetapi iman perlu bertumbuh dan peka dengan segala hal yang ada di sekitar kita.

What Bible says?

Lih. 1 Petrus 1:5-7

1 Petrus ditulis untuk untuk jemaat dengan 3 karakteristik yaitu orang-orang asing, orang-orang terserak, dan orang-orang terpilih.

Lih. 1 Petrus 2:18, semangat orang kristen adalah menjadi ‘agent of change’ yaitu seseorang yang mempunyai kehendak bebas untuk melakukan perubahan.

Apakah Kristus yang kita percayai membuat kita aktif melakukan perubahan? 1 Petrus 1:6 mengatakan.. iman yang benar harus bersukacita bahkan saat berdukacita. (merujuk pada tantangan-tantangan pada jaman sekarang dan sukacita yang harus dibawa).

Dengan mengetahui bahwa mendasarkan iman pada objek-objek di atas adalah keliru, maka pemuda diajak untuk lebih memahami imannya.

Sessi Tanya Jawab

Pertanyaan:

  1. Beberapa buku seperti Celestine Manuscript yang berbicara tentang energi dimana kemudian dikaitkan dengan Yesus Kristus sempat memberi pengaruh pada pertumbuhan iman. Tetapi sejak munculnya novel-novel gnotis dan movement lainnya membuat apatis. Haruskah menutup diri terhadap bacaan-bacaan seperti ini? terutama orang sering mudah goyah dari bukti-bukti yang diperkenalkan berbagai isme-isme lain. (Yaya)
  2. Tarot dsb hanyalah merupakan tafsir pemikiran yang tidak perlu diperdebatkan legal atau tidak legal. Tafsir pemikiran kristiani sendiri lebih bersumber dari Alkitab. Apakah dapat dijelaskan lebih jauh? (Risa)
  3. Iman seperti ‘the way we see something‘, apakah isme-isme tersebut disebabkan fanatisme? Apa bisa semua isme-isme itu menghancurkan iman yang ada dan create ‘iman’ baru? (Nana)
  4. Defenisi kata iman lebih condong pada sebutan keyakinan tapi harusnya juga dimunculkan lewat perilaku. Bila sebagai gereja kita tidak memancarkan kekristenan, apakah terjadi dualisme? Apakah kita tidak sedang mengatakan bahwa semua salah dan hanya kita yang paling benar/chauvinistik? (Prana)

Pembahasan:

  1. James Redfild menulis sebuah buku yang menarik walaupun demikian kita memang perlu waspada karena kadang-kadang kita bisa lebih takut setan daripada takut Tuhan, dan pengalaman iman kita menjadi kacau balau. Allah memang memelihara kita oleh iman tetapi melewati prosesnya terkadang tidak menyenangkan. Kita perlu menaruh pengalaman hidup dalam terang Firman Tuhan. Panggilan Tuhan membuat kita lebih kokoh. Jika kita tertarik atau menggumuli hal tertentu, berdoalah pada Tuhan. Dasarnya adalah Anugerah Tuhan dan doakan agar story kita masuk dalam story Tuhan dan dengan kekuatan panggilan Tuhan. Peter Kreeft membuat riset tentang okultisme dan mendapat kesimpulan bahwa yang namanya setan adalah makluk ciptaan yang cerdas, jadi dia bisa saja memberitahu sesuatu yang pernah terjadi. Tetapi Roh Kudus tentu saja lebih dari semua itu. Pergumulkan bila science bertemu dengan iman? bagaimana?
  2. Tarot jangan langsung disimpulkan. Lihat prosesnya. Segala macam ilmu itu berakar darimana, dipengaruhi oleh siapa, kepuasannya ada dimana? stand point dan integritas harus jelas. Mencintai sesuatu dan puas dari sesuatu (frui) harusnya milik Allah. Mencintai sesuatu dan tidak puas oleh karenanya milik manusia (utti). Konsep penebusan memiliki proses yang panjang.
  3. Apakah lebih beriman sama denganlebih fanatik? jika ya, maka hal itu adalah proses pembodohan yang menyempitkan hidup. Lahir baru harusnya membuat kita makin bisa menempatkan segala sesuatu di hadapan Tuhan dan menikmati pengalama-pengalaman sedih dan senang. “The way we say something’ lebih ke konsep worldview yang memerlukan sesi khusus.
  4. Setuju bahwa keyakinan dan perilaku harus konsisten, termasuk konsisten dalam ketidakkonsistenan. Dualistis dapat diterima tetapi dualisme berarti konsep dan perilaku tidak connect. Chauvinisme mirip dualisme. Dari materi PA kali ini diharapkan dengan mengetahui apa yang salah, kita bisa belajar apa yang benar. Yang benar disini tidak dimaksudkan sebagai fanatisme tetapi bahwa dalam setiap aspek hidup kita Tuhannya adalah Kristus. Chauvinisme sendiri mengandung unsur mereduksi iman.

notes:

  • teman-teman silahkan melihat buklet “Do i have the right kind of Faith?” di situs RBC karena penjelasan masing-masing isme tidak dijelaskan detail dalam posting ini.
  • terima kasih buat Nadi dan Tania yang telah mengisi ruang kesaksian

February 26, 2008 at 12:37 pm Leave a comment

PA 080221 – “What does God think of me now?” (Part 2)

Diskusi

Bagaimana Anda memposisikan Tuhan dalam perjalanan hidup Anda? Jika Anda disuruh memilih, mana yang lebih tepat menggambarkan peranan Tuhan: Tuhan sebagai arsitek rancang bangun hidup Anda atau Tuhan sebagai rekan yang berjalan bersama Anda, atau apa?

Sebagai arsitek rancang bangun, Tuhan yang mengatur segala sesuatu (grand-designer), sedangkan sebagai rekan dia menjadi teman seperjalanan Anda. Menurut kelompok Mario ‘cs: Peran Tuhan adalah keduanya, baik sebagai arsitek rancang bangun maupun rekan seperjalanan karena dari awal sampai akhir Tuhan tidak boleh dipisahkan; Menurut kelompok Petrus ‘cs: Tuhan adalah arsitek sekaligus rekan; Menurut kelompok Tanias ‘cs: Sudah pasti dua-duanya, Tuhan yang merancang dan sekaligus rekan, yang perlu diingat juga adalah bahwa sebagai manusia kita punya kehendak bebas/kemerdekaan sekaligus juga boleh bertanya pada Tuhan apakah ini atau itu boleh atau tidak agar sebagai anak Tuhan kita tetap berjalan bersama Tuhan.

Pembicara yaitu pdt. Cordelia Gunawan tidak memberikan jawaban langsung atas pertanyaan diskusi. Beliau memperkenalkan apa yang disebut sebagai “Pandangan tentang Tuhan” sebagai berikut:

  1. Deisme – Tuhan diposisikan sebagai tukang jam. Saat jam tersebut mulai berputar maka sang pencipta tidak dibutuhkan lagi. Pandangan ini mengemukakan bahwa setelah manusia diciptakan maka sepenuhnya tanggung jawab atas hidup ada pada manusia tersebut dan sama sekali lepas dari sang penciptanya. Contoh deisme adalah orang-orang yang mengandalkan kemampuannya sendiri. Contoh ekstrim adalah penganut paham atheis. Pdt. Cordelia juga mengingatkan mengenai “atheisme terselubung” yaitu bahwa secara legal kita beragama namun pada dasarnya kita tidak mempercayai bahkan cenderung menolak Tuhan.
  2. Tuhan yang mengatur detail kehidupan kita. Penganut paham ini percaya pada nasib atau takdir. Pandangan ini meniadakan kehendak manusia sehingga manusia menjadi pasif. Orang Kristen tidak percaya nasib/takdir. Pandangan ini kadang membuat orang tidak mengoreksi diri dan cenderung menganggap semua datang dari Tuhan.
  3. Tuhan sebagai Providentia Dei atau Pemelihara. Ada ruang bagi manusia untuk mengatur kehidupannya tetapi Tuhan tetap memegang peranan dan bertindak sebagai pemelihara. Berkenaan dengan ruang untuk mengatur kehidupannya sendiri ini, berhati-hatilah karena seperti kata rasul Paulus, daging lemah.

Diskusi

Situasi apa yang dapat membuat Anda ragu bahwa Tuhan mempunyai tujuan yang baik dalam kehidupan Anda?

Menurut Helga ‘cs: Waktu orang yang jadi panutan tidak bersikap sesuai dengan yang diinginkan, waktu kita ingin berubah tetapi justru mengalami kesulitan sehingga bertanya pada Tuhan kenapa mau berbuat baik saja koq susah, waktu diperhadapkan dengan pilihan-pilihan; Menurut Risa ‘cs: Waktu dapat musibah pasti setiap orang bertanya ‘apanya yang baik?’ atau saat kita menerima sesuatu yang tidak sesuai keinginan; Menurut Sisil ‘cs: Waktu diputusin pacar seolah dunia sudah berakhir padahal Tuhan sudah siapin yang lainnya :) cuma kita aja yang belum sadar, waktu karir mengantar kita untuk mengurusi bagian finance padahal kita maunya accounting, kita merasa ada yang salah padahal disana ada berkat berupa keuangan yang lebih secure, intinya waktu kita melihat kehidupan cuma dari sisi kita saja dan mengabaikan bahwa Tuhan melihat gambaran utuh sehingga saat apa yang kita lihat tidak bagus maka kita berpikir bahwa tidak ada hal yang baik disana.

Pdt. Cordelia menjelaskan bahwa sampai kapanpun kita tidak bisa 100% mengerti jalan pikiran Tuhan sehingga wajar apabila kita selalu bertanya apa kehendak Tuhan pada diri kita. Bila kita masih bertanya adalah indikasi yang baik bahwa iman kita hidup, tetapi bahayanya adalah bila kita tidak lagi bertanya karena kita merasa lebih tahu ataupun tidak mau tahu.

Pdt. Cordelia juga memberikan ilustrasi mengenai seorang ibu yang mengerjakan sulaman cruisstick, anaknya yang bermain di bawah hanya melihat gumpalan benang-benang kusut, tetapi saat sulaman itu selesai dan ibu itu memangku anaknya dan memperlihatkan hasil sulaman dari atas barulah sang anak melihat keindahan sulaman ibunya. Demikianlah kita. Kadang kita bertanya mengapa hidup menjadi seumpama benang kusut yang tidak ada ujungnya hingga saatnya Tuhan memangku kita dan menunjukkan hasil akhirnya. Jadi mari sadari keterbatasan kita dan karena kita terbatas itulah maka kita akan selalu membutuhkan Tuhan.

Hal-hal yang dapat membuat kita meragukan rencana indah Tuhan:

  • keterbatasan fisik
  • masalah-masalah yang harus dihadapi
  • tantangan-tantangan

How to overcome?

  • Belajar menerima dan mencintai diri sendiri. Lih Yoh 9:1-3. Contoh kasus: Nick dan Charlotte Elliot. Membaca Firman Tuhan setiap hari dapat menyapa setiap orang dengan cara yang berbeda pribadi lepas pribadi. Untuk keperluan konseling dengan orang-orang yang terbatas secara fisik, harus berhati-hati menggunakan Firman Tuhan apalagi jika kita tidak berada dalam posisi mereka. Berhati-hati pula pada kondisi stagnan, yaitu kita tidak membenci diri kita tetapi juga tidak menggali potensi kita. Keadaan ini akan sangat rentan bila terjadi sesuatu pada keadaan fisik. Banyak potensi yang tidak dibatasi oleh kelemahan fisik. Jadi, kenali diri dan gali potensimu!
  • Belajar terus meyakini bahwa kita dikasihi oleh Tuhan. Contoh kasus: Tukinem, Harold Kushner, Stanford. Lihat Roma 8:28.

Contoh-contoh dan penjelasan tidak semua di rangkum dalam posting blog. Penasaran? makanya rajin datang PA Pemuda dong hehe :P

Beberapa kesimpulan/pernyataan dari peserta PA:

Wiwik: Harus belajar untuk tidak sombong karena iman manusia bisa saja berubah

Petrus: Sebelum sakit rajin saat teduh, sekarang mulai saat teduh lagi dan semoga tidak kambuh lagi penyakitnya. Kesaksian bahwa Tuhan sanggup melepaskan dari kuasa gelap dan memberi sukacita.

Tania: Tuhan tempatkan kita dimanapun dalam keluarga seperti apapun dan lingkungan yang seperti apapun adalah untuk menjadikan kita berkat bagi banyak orang.

Sessi tanya jawab:

  1. Apakah dapat disimpulkan bahwa Tuhan punya rencana dan untuk mewujudkannya perlu bekerja sama dengan manusia?
  2. Bagaimana dengan ungkapan, “orang itu sudah jahat dari sananya!”
  3. Pada kasus Stanford apakah berarti rancangan Tuhan telah gagal pada dirinya?

Pembahasan:

  1. Pemeliharaan Tuhan dapat dikatakan bahwa hidup kita berkolaborasi dengan Tuhan. Tuhan tahu karena Dia mengenal kita tetapi kita punya kehendak bebas disana. Bedakan antara ‘Tuhan tahu’ dan ‘Tuhan tentukan’. Providencia berarti pemeliharaan Tuhan tetap sepanjang kehidupan kita.
  2. Tidak ada orang yang ‘jahat dari sananya’, yang ada adalah manusia yang dalam perjalananya meninggalkan Tuhan. Ingat, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (ImagoDei).
  3. Akhir hidup Stanford yang tragis membuat ia dilihat gagal dari sudut pandang manusia walaupun demikian kita tidak bisa mengklaim bahwa rancangan Tuhan gagal pada Standford. Yang jelas dari kehidupan Standford ada hal yang bisa kita pelajari. Toh Alkitab mencatat bahwa Tuhan memakai orang-orang yang tidak ‘sempurna’.

Refleksi:

“Apakah saya masih terus bertanya dan melibatkan Tuhan dalam sepanjang perjalanan hidup saya?”

____

notes:

  • PA kamis ini lebih bersifat diskusi 2 arah.
  • terima kasih kepada Ramon dan Yaya yang udah mengisi ruang kesaksian

February 26, 2008 at 12:21 pm Leave a comment

PA 080214 – “What does God think of me now?” (part 1)

Kamis, 14 February 2008

Setelah PA Pemuda tahun ini dibuka dengan topik, “Resolusi; realita atau mimpi” maka PA selanjutnya mengambil topik “What does God think of me now?” yang diangkat dari buku “The purpose driven life” (Rick Warren). Mengawali PA, pembicara yaitu pdt. Cordelia Gunawan, mengungkapkan pertanyaan tentang hakekat hidup.

“Saya hidup untuk…”

Dimensi hidup yang menyangkut tanggung jawab dan peranan manusia dilihat dari tiga perspektif:

  1. Berdasarkan kejadian awal atau sejarah penciptaan (Lih. Kejadian 1:26-27): Manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah (ImagoDei). Ketika Allah menghembuskan nafas kehidupan, maka manusia itu hidup. Manusia hidup, maka ia bernafas. Dan selama ia hidup, maka ia haruslah menjadi citra Allah atau ImagoDei tadi.
  2. Berdasarkan pemahaman iman Kristen bahwa pada dasarnya manusia telah mati oleh dosa tetapi oleh Yesus Kristus ia diselamatkan dan menjadi manusia baru (Lih. Efesus 4:17-24). Oleh karenanya, kematian bukan lagi akhir dari segala-galanya bagi orang Kristen, melainkan hanya sebuah pintu menuju kehidupan kekal.
  3. Merujuk pada butir 2, menjadi manusia baru berarti hidup dalam persekutuan dengan Allah sebagai anak-anak terang.

Dengan demikian, kehidupan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab kita sebagai: 1. Gambar dan rupa Allah, 2. Manusia baru, 3. Persekutuan anak-anak terang.

Apakah tanggung jawab ini memiliki dampak dalam kehidupan sehari-hari? Seharusnya ada, tetapi seringkali kita lupa. Manakah yang lebih penting, ambisi atau proses pencapaiannya? Harusnya proses tetapi dalam kenyataannya banyak juga orang meninggalkan Tuhan demi ambisi. Orang yang hidup dalam Tuhan, harusnya mempunyai semacam “ALERT” untuk tetap erat dengan Tuhan.

Seberapa jauh kita menyelaraskan tujuan hidup kita, termasuk tujuan hidup yang spesifik dengan tanggung jawab kekristenan kita? Berhati-hatilah dengan tujuan-tujuan kita karena mungkin saja kita melakukan pilihan-pilihan yang salah. Memiliki tujuan sah-sah saja, tetapi jangan lupa tujuan dan tanggung jawab kehidupan kita yang mendasar.

Apa kesulitannya?

  • Hidup tidak selalu hitam putih. Kita tidak mengetahui secara detail apa yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan, walaupun demikian paling tidak kita dapat menemukan kehendak-kehendakNya yang umum yang dapat kita temui melalui Firman Tuhan dan hubungan pribadi dengan Tuhan.
  • Menyelaraskan tujuan dengan Firman Tuhan. Berhenti perlakukan Tuhan seperti mesin ATM, hanya datang pada saat membutuhkan.
  • Ketersisihan dan perasaan takut ditolak. Kita harus siap untuk ditolak tapi kecenderungan kita lebih takut manusia daripada Tuhan. Walaupun demikian, manakala kita berupaya dekat dengan Tuhan akan ada kemungkinan kita tertolak atau tersisihkan.

“What does God think of me now?” adalah suatu pertanyaan yang perlu terus bergaung dalam setiap aktivitas kita. Sebagai citra Allah (ImagoDei) prinsip ‘tak kenal maka tak sayang’ juga berlaku. Kenalilah Tuhanmu dan cintailah Dia. Mengalami ketersisihan dan penolakan hanyalah bagian dari harga yang harus dibayar.

Sessi tanya jawab:

Pertanyaan

  1. Untuk point 3, bila kita belum mengalami penolakan/ketersisihan, apakah hidup belum lengkap? (Aldrian)
  2. Jika tidak mengikuti arus maka saya akan tersisih, jika saya tersisih maka saya tidak mempunyai kesempatan melakukan perubahan yang menuntut kompromi sebagai syaratnya. Harus bagaimana? (Wiwin)
  3. Bagaimana skala prioritas antara sabat dan urusan yang tidak dapat ditunda? (Yudi)
  4. Contoh kasus: orang yang tergesa-gesa ke gereja atau tidur di gereja. Bagaimana konsep-konsep yang tidak memperhatikan proses? terutama bahwa yang terpenting hubungan spiritual pribadi dan tidak harus komunal. (Yaya)
  5. Bolehkah kita menguji Allah? Contoh kasus: perpuluhan diberikan tetapi kehidupan justru semakin berat sehingga mempertanyakan janji Allah bahwa tingkap-tingkap berkat akan dibukakan bila kita memberi. (Yudi)
  6. Apakah boleh perpuluhan dipakai untuk menolong orang dan tidak diberikan via gereja? (Prita)
  7. Hubungan dengan Tuhan harusnya membawa seseorang menjadilebih baik. Tapi Tuhan yang mana? Agama lain juga mengajarkan demikian. Dalam kehidupan kekristenan banyak hal yang tidak implikatif, apa bedanya dengan iman lain? (Wiwin)

Pembahasan

  1. Tidak bisa langsung dikatakan ya bila hidup tidak lengkap tanpa ketertolakan tetapi juga tidak bisa dikatakan ya bila ada hidup yang sama sekali tanpa penolakan atau ketersisihan. Walaupun dalam skala yang berbeda-beda, setiap kita pasti mengalaminya. Tapi seandainya tidak, hal tersebut juga bisa menjadi ‘alert’, jangan-jangan selama ini kita tidak mau meninggalkan zona nyaman kita. Refleksi: apa sih zona nyaman kita saat ini?
  2. Ada hal-hal yang menyangkut keputusan etis. Kita harus selalu bergumul dengan baik vs buruk, tepat vs tidak tepat, benar vs salah. Contoh kasus: Raja Salomo dalam kasus dua ibu yang memperebutkan bayi. Banyak hal memang tidak 100% sempurna (catatan: tapi jangan juga dijadikan alasan) namun kita harus berusaha mempertanggungjawabkan iman kita. Terkadang juga dikarenakan kita takut mencoba hidup benar dan berpikir tidak ada jalan lain selain kompromi.
  3. Menolong sesama juga termasuk ibadah. Walaupun demikian sabat tetap harus diperhatikan berdasarkan maknanya.
  4. Tradisi kekristenan mencatat bahwa orang menempuh perjalanan berkilo-kilo untuk ibadah. Hubungan pribadi memang perlu, tetapi hubungan komunal juga perlu. Tanda salib menunjukan perlunya hubungan vertikal dengan Tuhan dan horisontal dengan sesama.
  5. Jika motivasi memberi adalah untuk mendapatkan lebih –> salah! Memberi haruslah sebagai ungkapan syukur sehingga seberat apapun keadaan yang menekan kita tidak akan merasa terbeban dan selalu ada yang bisa disisihkan (bukan disisakan).
  6. Perpuluhan sebaiknya diserahkan ke gereja (konvensional), jika ada yang benar-benar membutuhkan bisa disalurkan tetapi jangan dibiasakan. Prioritaskan untuk tetap menyalurkan via gereja. Belum ada aturan baku dan masih menjadi bahan diskusi tetapi yang harus diingat segala sesuatu harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.
  7. Kekhasan kristiani sangat terkait dengan keselamatan dan Yesus Kristus. Untuk hal-hal yang bersifat praksis agak sulit dijelaskan karena juga menyangkut bagaimana kita melihat diri kita dan orang lain.

Refleksi:

Apakah hidup saya menjadi citra Allah, manusia baru yang mengalami persekutuan dengan Allah, dan menjadi anak-anak terang?

February 18, 2008 at 2:35 pm Leave a comment

PA 2 Agustus 2007 – “Kawin Campur dan Campur Tangan Tuhan”

 - Menemukan hikmat Tuhan seputar perkawinan beda agama

PA ini merupakan lanjutan PA khusus yang diadakan sehubungan dengan terbitnya buku dengan judul di atas. PA ini dilayani oleh penulis buku, Graham Roberts, seorang misionaris/dosen dari Australia yang fasih berbahasa Indonesia. PA dihadiri oleh sekitar 45-50 orang.

 Beberapa hal yang disampaikan adalah:

  1. Pernikahan beda agama bukanlah tentang status agama, melainkan merupakan pernikahan antara seseorang yang menyerahkan hidupnya kepada Kristus dengan seseorang yang belum. Hal inilah yang menurut Alkitab tidak bisa terjadi.
  2. Yesus Kristus cemburu jika “kekasih-Nya” dibawa oleh “pihak lain”.
  3. Iblis akan menggunakan masalah “romance” sebagai salah satu senjatanya.
  4. Siapakah yang bukan Kristen?
      anggota komunitas iman/agama lain.
      mempunyai pengertian tentang Allah berbeda dengan yang ada di Alkitab.
      tidak mengakui Yesus Kristus sebagai Juru Selamat.
  5. Pernikahan beda agama bisa jadi harmonis, tapi sebenarnya secara esensi hidup secara bertolakbelakang.

 

September 3, 2007 at 12:30 pm 2 comments

PA 26 Juli 2007 – “Kawin Campur dan Campur Tangan Tuhan”

Menemukan hikmat Tuhan seputar perkawinan beda agama

PA ini merupakan PA khusus yang diadakan sehubungan dengan terbitnya buku dengan judul di atas. PA ini dilayani oleh penulis buku, Graham Roberts, seorang misionaris/dosen dari Australia yang fasih berbahasa Indonesia.

Pada PA ini, Bapak Graham Roberts memberikan delapan hal penting, yaitu:

l konsep pernikahan Kristen.

l Yesus Kristus adalah Tuhan.

l (???) => Maaf, kurang cepet nulisnya :p , ada yang bisa nambahin??

l hasrat Tuhan untuk membahagiakan umat-Nya.

l pernikahan merupakan hal yang diakui oleh Allah.

l adanya tanggung-jawab manusia setelah mmutuskan untuk menikah.

l dimensi spiritual merupakan dimensi terdalam bagi suatu pernikahan.

l tujuan pernikahan bukanlah keharmonisan, tetapi hidup bersama bagi Tuhan.


Beliau juga memberikan tips-tips untuk memilih pasangan hidup:

l pengikut YK

l dapat dipercaya perkataannya

l mengendalikan diri dari godaan seksual

l menjalankan tugas dgn setia

l memahami prinsip Alkitab tentang peran pria dan wanita

l memiliki tanggung-jawab jika menjadi orang tua

l hidup bersama selamanya

l hubungan menguatkan iman

September 3, 2007 at 12:29 pm 2 comments

PA 19 Juli 2007 – “Putar Film: Crash”


PA ini merupakan jeda di antara topik-topik tentang temperamen dan karunia rohani. PA ini dihadiri oleh sekitar 20 orang.
Film yang diputar merupakan pemenang Oscar dalam kategori film terbaik. Film ini bercerita tentang suatu bagian kehidupan di USA dimana kehidupan tersebut dicemari oleh rasa syakwasangka dan diskriminatif.

September 3, 2007 at 12:24 pm Leave a comment

Older Posts


Recent Posts


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.